Sabtu, 24 Agustus 2019

Saatnya Indonesia Bebas TBC, TOSS!


Sumber: Kemenkes RI
Oleh: Syafriana Sitorus

Senin, 14 Agustus 2019 , saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri “Seminar Hari TBC Se-Dunia” yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara di Hotel Grand Antares Medan.  Saya beruntung sekali mendapatkan undangan ini dari salah satu dosen saya di FKM USU (Beliau sangat peduli sekali terhadap “improvement” alumninya). Kebetulan, jadwal saya tidak ada hari tersebut, saya pun hadir bersama salah satu asisten peneliti juga (Nurhasanah).

Kegiatan ini mengusung tema “ Saatnya Indonesia Bebas TBC” dengan sasaran peserta lintas sektor terdiri dari Penanggungjawab TB di Puskesmas, Akademisi/ kampus kesehatan, Ibu PKK, NGO Aisyiyah, PESAT (Pejuang Sehat Bermanfaat), mantan pasien TBC, Tokoh Agama dan Masyarakat, Kader, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Kota dan lintas sektor terkait lainnya di wilayah Sumatera Utara.

 Acara dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara yang baru saja dilantik, dr. Alwie Mujahid, M.Kes menggantikan Drs. Agustama, APT, M.Kes. Beliau memaparkan keadaan kasus TBC di Indonesia yang sangat mengkhwatirkan. Indonesia berada diurutan ke 3 tertinggi kasus TBC Se-Dunia setelah India dan China. Ini bukan suatu prestasi yang perlu dibanggakan. Dari dulu sampai sekarang, kasus ini masih terus ada. Beliau mengatakan sangat terbuka terhadap masukan yang dibeirkan masyarakat terutama di awal kepemimpinannya yang perlu banyak masukan dari lintas sektor untuk menuntaskan permasalahan kesehatan di SUMUT.
Saya mengutip quote beliau,
“SUMUT daerahnya besar dan luas. Namun kita masih tertinggal termasuk masalah kesehatan. Posisi kita masih dibawah. Kita semua perlu bersama untuk menjadikan SUMUT berMARTABAT. Pertemuan lintas sektor seperti ini akan mengurangi kasus di lapangan”.

Pemaparan dari Kepala Seksi P2P Dinkes Prov.SU (dr. Yulia Mariani, M.Kes) memaparkan Data bahwa 48% Case Death Rate/ CDR TBC. Sementara Sumut ada 72,6% Proporsi Penderita TB <6 bulan yang minum obat secara rutin). Hasil Riskesdas Tahun 2018 yang saya telusuri bahwa kasus banyak terjadi di umur <1 tahun (94% dari 7 orang diwawancarai) dan pada perempuan (70,1% dari 686 yang diwawancarai).

Selain itu, fakta lainnya 842.000 Estimasi jumlah kasus, 552.034 Notifikasi kasus, 89% Kebersalinan pengobatan, 34% kasus belum terlaporkan, 4400 TB RO, 52.929 TB Anak, dan 7.729 TB-HIV. Komplikasi kasus TBC menyebabkan penyakit ini menjadi resisten dan menyerang banyak orang secara perlahan-lahan (Silent Killer Disease).

Hal ini tidak hanya menjadi tugas dari pemerintah saja, tetapi diperukan kepedulian dan kontribusi masyarakat seperti “Community TB-HIV Care Aisyiyah” yang hadir di Indonesia termasuk Sumut. Organisasi ini beralamat di Jalan SM.Raja No. 136 Medan diketuai oleh Hj. Elynita dan Koordinatornya Sri Maharani, SE, M.Ak.
Berkecimpung di LSM ini, Sri Maharani mengungkapkan banyak hal yang telah dilakukanya bersama tim diantaranya: (a) Penanganan Kasus TB/ Case Holding yaitu mendampingi pasien TB dan memotivasinya minum obat sampai sembuh, (b) Pelatihan Kader-kader yang tersebar di beberapa Kab/Kota Sumut, (c) Kampanye program di Media cetak dan elektronik, (d) Advokasi daerah, (e) Koordinasi lintas sektor (Dinas kesehatan dan puskesmas), (f) Pelatihan Pasien Supporter di Rumah Sakit Haji, (g) Inspeksi Kasus yang dilakukan sekitaran rumah pasien TB serta (h) Monitoring kader berdasarkan hasil laporan.

Banyak suka dan duka yang mereka rasakan dan tantangan ketika di lapangan. Sinergitas sangat diperlukan selama prose situ sehingga LSM Aisyiyah masih tetap eksis samapai sekarang.

Well, All readers. Sebenarnya apa sih TBC Itu? Don’t worry, I’ll Explain it to you guys. Actually, materi ini sudah tidak asing lagi karena saya banyak terlibat penelitian terkait TBC termasuk skripsi saya dan project saya dari NGO (NonGoverment Organization) JKM (Jaringan Kesehatan/Kesejahteraan Masyarakat) di Wilayah Deli Serdang dan Serdang Bedagai Tahun 2014 lalu.

Berikut hasil rangkuman yang saya buat setelah pemaparan materi inti dari beberapa narasumber:

1.      Tuberkulosis Paru dan Permasalahannya oleh Dokter Spesialis Penyakit Paru Rumah Sakit Haji Medan (dr. Parluhutan Siagian, Sp.P(K)).
Gejala-Gejala TBC (Sumber: Perdhaki.org)
Tuberkulosis dikenal dengan TBC atau TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Microbacterium tuberculosis. Bakteri ini bisa hidup di seluruh organ tubuh manusia yang dialiri darah kecuali kuku dan rambut. Jadi, TBC bukan hanya pada paru saja, tetapi bisa menyerang tulang, kelenjar, otak, dan lainnya.
Kita perlu waspada guys, sebab Bakteri TB ditularkan melalui udara (inhalasi) apabila seorang pasien TB aktif batuk, ketawa, bersin atau menyanyi. Bakteri tersbut bisa bertahan juga ditempat tertutu yang gelap dan lembab dalam beberapa jam hingga bulan. Namun, bakterinya akan mati jika terkena Sinar Ultraviolet Matahari.
So, lingkungan yang lembab dan gelap tadi akan mempercepat proses penularnya. Makanya, kita disarankan untuk memiliki ventilasi di rumah agar sinar matahari bisa masuk. Selain itu, terapkan 5 etika batuk (gunakan masker, menutup hidung dan mulut dengan lengan/ sapu tangan/ tisu, cuci tangan dengan air bersih dan sabun serta membuang tisu yang telah dipakai).

Dr. Parluhutan juga mengatakan bawah 1 orang TB Aktif bisa menularkan ke 10-15 orang terdekatnya dalam 1 tahun (setiap orang pasti sudah memiliki bakteri ini didalam tubuhnya). Apalagi penderita TB yang tidak diobat, akan memperluas jumlah orang yang tertular. Gejala-gejala TBC akan muncul apabila daya tahan seseorang tersebut menurun. Allright, Apa saja gejalanya? (PERHATIKAN GAMBAR)

Jenis-Jenis Pengobatan TBC 
Apabila seseorang telah terkena TBC, diwajibkan untuk meminum OAT (Obat Anti Tuberkulosis) selama 6 bulan yang terdiri dari 2 bulan (Obat Warna Merah) dan 4 bulan (Obat Warna Kuning). Namun terlebih dahulu, akan dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium (cek dahak/ sputum). Pemeriksaan dan pengobatan tersebut didapatkan secara GRATIS di Puskesmas dan Rumah Sakit. Jadi, pasien TBC tidak perlu khawatir karena tidak punya BPJS. Pengobatan ini juga berlaku untuk pasien TBC-MDR (Multi Drugs Resistant). Penjelasannya bisa dilihat dari gambar disamping.
“Taat Berobat = SELAMAT, Terlambat Berobat = KUMAT, dan Tak Berobat= TAMAT”


2.      Pengalaman pasien sembuh dari TBC dari PESAT (Listiani Ketaren)
Seorang perempuan dengan millennial style mendekati layar persentasi dan memulai pembukaan dengan kisahnya berjuang selama 9 tahun dari TBC. Semua peserta mendengarkan dengan cermat perjalanan panjang beliau termasuk saya. Melihat dari postur tubuhnya, mungkin anda bisa tidak percaya bahwa beliau adalah mantan TBC karena tidak seperti tubuh penderita TBC pada umumnya yang terlihat kurus atau bahkan tidak bisa mengangkat tubuhnya lagi.

Kisahnya berawal dari tahun 2007 saat gejala-gejala diatas muncul. Makin lama terasa semakin menyiksa. Beliau dan keluarganya telah berobat ke berbagai pengobatan termasuk praktek dokter spesialis yang tidak murah namun hasilnya tidak sembuh. Bahkan sampai ke Dukun dan Kaki Gunung Sinabung. Salah satu dokter telah memvonis bahwa perlu dilakukan amputasi paru-paru.

Listiani menceritakan kisahnya dan mengenalkan PESAT
Pada Tahun 2013, Listiani telah didiagnosa TB-MDR. Dia pun berinisiatif untuk mencari informasi terkait penyakitnya. Hal ini membuka hatinya untuk patuh menjalani pengobatan karena masih ada harapan untuk sembuh. Tekatnya begitu kuat dengan keluarga yang selalu mendukung secara materi. Selama 21 bulan, Listiani tidak berada di lingkungannya namun mengasingkan diri sehingga proses pengobatan bisa dijalani lebih fokus.
“16 Butir obat saya telan semua dan Senin sampai Jum’at saya selalu disuntik. Itu berlangsung 21 bulan dengan efek samping yang tidak mudah. Bukan hanya mual dan muntah saja yang saya rasakan, saya tidak bisa berjalan dan pendengaran saya terganggu akibatnya. Tetapi saya tetap semangat menjalaninya. Saya ingin sembuh”, Tuturnya

Tahun 2015, Dia telah selesai pengobatan dan dinyatakan sembuh (tetap kontrol setiap 6 bulan). Berdasarkan pengalamannya, ia tidak mau lagi oranglain merasakan apa yang dia rasakan, Listiani bersama mantan penderita TBC lain yang berada di Kota Medan mendirikan Komunitas bernama PESAT (Pejuang Sehat Bermanfaat) pada 15 Juni 2015 dan telah berbadan hukum. Sampai sekarang, komunitas ini berperan aktif di masyarakat termasuk di pelayanan kesehatan. Adapun kegiatannya yaitu Pendampingan pasien/ home visit, Hospital visit, puskesmas visit, FGD/focus group discussion dan membantu pengurusan dana enabrer. Sebelum ke lapangan, mereka dibekali pelatihan dan perlindungan juga agar tidak terkena TBC lagi.
Mereka memahami pentingan dukungan dan motivasi orang sekitar untuk pasien TBC karena pengobatannya tidak cepat dan efek yang ditimbulkannya. Walaupun mereka juga berpeluang untuk kambuh, tetapi belajar dari pengalaman, mereka akan lebih hati-hati lagi ketika dilapangan.
“Pasien yang berjuang perlu dirangkul, tidak dijauhi oleh masyarakat”, ungkapnya.

Kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan dalam menuntaskan masalah TBC di Sumut. Sebagai praktisi kesehatan, sudah menjadi tanggungjawab saya menularkan ilmu karena TBC bisa menyerang segala jenis umur, kelompok, jenis kelamin dan status sosial. Bagi anak yang baru lahir, perlu mendapakan Imunisasi BCG untuk mencegah penyakit ini. The Last, readers, sudahkan peduli kesehatan anda dan lingkungan anda?
Let’s prevent and TOSS (Temukan Obati Sampai Sembuh) TBC!!!


22 komentar:

  1. Ngeri yaa... 1 orang TBC bisa menularkan 10-15 orang, subhanallah... Thank for sharing yaa

    Btw, adik saya juga FKM. S1 di USU, S2 di UI. Sekarang dia di Balitbangkes Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Ibarat gek zombie. Wellcome kak. Oh iya kak? Senior saya dongs berarti. namanya siapa kak. maybe kenal

      Hapus
  2. dulu teman saya penelitiannya buaut murniin protein yang nantinya bisa dijadiin buat obat TBC kak. tapi masih skala lab. Semoga TBC di indonesia khususnya di sumut akan segera terselesaikan ya kak. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah bagus ini kak. Sebab selama ini belum ada pengobatan herbal untuk penyakit ini. Kenapa tidak dijadikan produk saja kak? teman saya dulu di farmasi meneliti tentang diabetes and now dia jadiin produk "Kolagit"

      Hapus
  3. rupanya TBC pun beragam ya kak syafriana.
    ada yang Paru, ada juga yang bernaung di KeleNjar.
    Yang sedih nya pernah ke rumah sakit paru, ada bayi yang kena TBC gara2 lingkungannya pada merokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul kak. Kasiannya. Bayi memang Kelompok umur yang rentan terkena kak selain lansia karena daya tahan tubuh mereka gak sekuat orang dewasa apalagi kalo dalam keluarganya ada yang merokok

      Hapus
    2. Gimana lah bilang supaya bapak bapak itu berhenti rokok
      Aku termasuk yg gak kuat asap rokok, bisa langsung sesak, apalagi kalau lagi Nongko bareng temen di cafe outdoor penuh dengan asap rokok langsung bengek (pernah kejadian waktu itu dan tobat nongkrong di tempat bebas asap rokok )

      Hapus
    3. sama kak. kadang awk juga merasakan hal yang sama. awak tinggal kasi kode batuk2 gitu kak. atau pindah tempat kak.

      Hapus
  4. Terkadang manset yang harus diubah ya kak. Sama seperti orang sakit kanker yang kadang dijauhi. Semoga pada semangat para pejuang TBC ya kak. Terimakasih, banyak informasi yang bisa Gacil dapat dari tulisannya

    BalasHapus
  5. Seringnya org menyadari terkena TBC pas udah parah2nya baru ke rs, sudah gitu tanpa menggunakan masker lagi, bagaimana menyadarkan orang2 seperti ini ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. It is truly fact kak. Seakan-akan mereka ndk mau kena sendirian ya kak. Makanya kita harus kampanyekan "Tidak perlu malu dan jangan jauhi mereka, gunakan masker setiap hari (khususnya 2 bulan pengobatan TB)" kk

      Hapus
  6. Kadang banyak yang tak sadar jika kena TBC terutama yang peroko aktif. mereka kira batuk biasa efek dari rokoknya. Pas periksa sudah parah dan sudah menular ke keluarga dan orang banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul Kak. Saya aja ketika dilapangan banyak kasus yang ditemui, ibu-ibu ketularan dari lakikny atau laki-laki yang kuuruss kali. tpi masih tetap merokok. TBC pulak. Jadi gek merasa kurang dihargai perjuangan pengobatan nasional ini.

      Hapus
  7. Artikel yng sngat bermanfaat... Dan harus lebih kita perhatikan
    Lagi tentang bahayanya

    BalasHapus
  8. Ngeriii ya TBC ini
    Dulu pernah punya temen di kampus sakit TBC, dia terus berjuang sambil kuliah sambil jualin kue, untuk dia berobat.. suka sedih lihatnya makanya setiap dia keliling kosan nawarin kue, kami langsung beli.
    Tapi Allah lebih sayang, udah mau semester akhir atau udah tamat ya akhirnya dia dipanggil duluan..
    Suka sedih kalau inget beliau 😭
    Semoga kita bisa aware yaa,
    Btw batuk berkepanjangan kalau gak diobati bisa menyebabkan TBC juga gak sih

    BalasHapus
  9. Segitu pentingnya ya cahaya matahari dan ventilasi dirumah brrti ya kak. Biar agak ngurangin dampak pnyakit huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak. Sepele tapi dampaknya ke penyakit2 menular

      Hapus
  10. Info yg bagus, aq pernah diagnosis infeksi paru, cm ya dirumah laki-laki nya pada merokok semua, ,cemana mau sembuh total.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi sekarang gek mana kak? masih terdiagnosa atau kemaren udah menjalani pengobatan?

      Hapus
  11. Tahun 2017, ada acara serupa di Batam. Waktu itu aku coba semuanya dan Alhamdulillah gratis. Dan aku bisa tau persentasi penyakit saat itu.

    Semoga di Medan selalu ada acara yang sama ya

    BalasHapus

Semoga bermanfaat

Artikel terpopuler