Selasa, 06 Agustus 2019

Perlukah Gadget Untuk Anak?

senyum ceria tanpa gadget


Oleh: Syafriana Sitorus

Kemajuan teknologi di Abad 21 terus meningkat seiring dengan inflasi dari kurva permintaan masyarakat akan suatu barang. Inovasi- inovasi terus diadakan untuk menghasilkan suatu produk yang baru dan memudahkan masyarakat dalam melakukan suatu pekerjaan. Satu per satu produk/ program bermunculan mulai dari inovasi Smartphone.

Salah satu produk abad ini yang sangat menarik perhatian masyarakat adalah Gadget, yang merupakan piranti gengaman dengan paket lengkap berkomunikasi, berinteraksi dan beredukasi. Bentuknya yang simple dan unit dengan layar sentuh, terlihat elegan dan dimanfaatkan sebagai pengganti handphone atau komputer karena mudah dibawa kemana-mana. Sehingga tak heran jika gadget memiliki jumlah peminat yang terus bertambah. Perangkat ini juga didukung oleh program-program yang setara dengan komputer dengan sistem android seperti Facebook, Twitter, Line, Instagram, Microscoft Office, Desain Grafis, Games, dan lain- lain.

DUA SISI GADGET
Jika dilihat di sekolah, pusat perbelanjaan, dan di taman kota, Anak-anak dengan gadget adalah pemandangan yang tidak langka lagi. Anak-anak tersebut terlihat asyik dan lincah bermain game di gadgetnya dan sebagian lain memainkan sosial media. Bahkan mereka tidak lelah berjam-jam duduk tanpa melakukan aktivitas lain. Mengutak-atik dan mencoba hal-hal baru sehingga sering kali pekerjaan lain terabaikan.

Menurut survey yang dilakukan sepanjang tahun 2013 dan di awal tahun 2014, gadget sudah menjangkau segmen pasar anak-anak yaitu remaja, anak usia sekolah dan balita. Serta data yang tercatat di Kementerian Komunikasi dan Informatika, jumlah pengguna gadget di Indonesia sudah mencapai 240 juta unit melebihi jumlah penduduk indonesia yang sekarang berada di kisaran angka 230 juta jiwa dan 65 persen titik fokus daerah berada di pulau jawa dan area perkotaan. Hal tersebut terjadi dengan pehitungan bahwa satu orang memiliki lebih dari 1 gadget sehingga jumlahnya bisa melebihi jumlah penduduk (Merdeka.com).

Sebenarnya angka ini cukup membanggakan Indonesia karena bisa disimpulkan bahwa teknologi sudah menjangkau masyarakat di semua lapisan. Namun, hal ini tidak diimbangi dengan pembangunan atas sektor lain seperti pendidikan dan kesejahteraan ekonomi. Ini disebabkan masyarakat Indonesia yang memiliki sifat konsumtif terhadap produk luar negeri sehingga produk domestik tenggelam tanpa peminat. Tak heran ekonomi Indonesia akhir- akhir ini melemah. Inilah yang menjadikan gadget memiliki dua sisi yang bertolak belakang.

Sisi pertama, penggunaan Gadget dinilai dapat menstimulus indra dan imanjinasi anak, membuat daya kreativitas anak semakin berkembang, mengembangkan kemampuan analisis anak terhadap suatu persoalan, mengembangkan kemampuan bahasa inggris, dan membuat anak cepat tanggap dalam merespon serta sebagai media pembelajaran untuk menyimpan bahan- bahan sekolah.

Sisi kedua, penggunaan Gadget juga bisa mempengaruhi psikologis anak. Kebanyakan orangtua mengakui bahwa mereka memberikan gadget kepada anaknya untuk menemani anaknya bermain ketika orangtua sibuk dengan pekerjaan mereka dan menghindari anak tidak ribut saat ditinggal di rumah. Orangtua lupa bahwa pada hakikatnya seorang anak selalu ingin melakukan dan mencoba hal- hal baru terutama usia 5-19 tahun. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan suatu media yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka tanpa banyak menimbulkan efek negatif khususnya pertumbuhan jaringan otak sebagai sistem saraf pusat.

Anak- anak yang telah terpengaruh psikologisnya, mereka tidak memiliki kestabilan emosi. Mereka akan marah jika gadgetnya diambil atau kalah. Mereka juga tidak memperdulikan oranglain yang memanggil ketika sedang asyik bermain games atau sosial media. Berjam- jam lamanya bermain gadget tidak menjadi masalah bagi mereka sehingga masalah kesehatan muncul yaitu gangguan penglihatan. Sehingga anak- anak tersebut sering mengeluh kelelahan mata bahkan beberapa diantara mereka sudah menderita rabun.

MASIH PERLUKAH?
Gadget memang banyak manfaatnya namun masihkah kita mengganggap bahwa produk tersebut juga baik dikonsumsi untuk anak-anak. Fakta-fakta diatas jelas mengungkapkan bahwa perkembangan kecerdasan anak dan media bermain anak tak hanya gadget. Masih banyak media bermain yang lebih aman dan bagus untuk mengembangkan kecerdasan anak. Tokoh-tokoh dunia seperti Bill Gates (Penemu Windows), Charles Darwin (Bapak Biologi), Issac Newton (Penemu Gaya Gravitasi), Kahril Gibran (Penyair), serta tokoh nasional seperti Soekarno (Bapak Proklamator),  BJ Habibie (Doktor Jerman) bisa hidup tanpa gadget namun memiliki kecerdasan yang telah diakui dunia.

Anak balita dan usia dini adalah golongan yang tidak disarankan untuk menggunakan gadget karena akan mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya yang berkaitan dengan gelombang magnetik dari produk teknologi ini serta mengganggu konsentrasi yang berkaitan dengan kemampuan motorik anak dalam menerjemahkan stimulus yang masuk. Hal ini dikarenakan games yang cepat berubah polanya sehingga memaksa otak anak bekerja cepat dan berambisi untuk terus menang.

Oleh sebab itu, orangtua berperan dalam mengatur apa yang perlu dimiliki anak dan apa yang belum pantas diberikan. Penerapan aturan untuk anak yang tergantung perlu dengan mengurangi jadwal pemakaian maksimal 14 jam per minggu, jarak pandang mata ke layar gadget minimal 30-35 cm sejajar, melakukan peregangan setiap 15-20 menit sekali agar otot- otot leher dan badan tidak kaku serta memonitoring anak selama menggunakan gadget terhadap aplikasi yang boleh dimasukkan untuk menghindari hal-hal yang bisa terjadi di luar pengawasan orangtua.

Apapun dampak positif dan negatif gadget serta usaha meminimalisir ketergantungan gadget, keputusan anak boleh memiliki gadget kembali lagi kepada orangtua. Orangtua sebagai fasilitator dalam memenuhi fasilitas- fasilitas untuk kehidupan anaknya namun perlu cermat memilih kesesuaian usia dengan fasilitas yang akan diberikan. Komunikasi, Interaksi, dan Edukasi mampu dilakukan oleh orangtua dan anak tanpa ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Lantas, bagaimana orangtua menanggapinya? Jika hal ini terus dibiarkan, apakah peran orangtua perlahan akan tergantikan?...

37 komentar:

  1. menurut kak sinyo, pendiri Peduli (yayasan gratisan yang menangani LGBT yang ingin kembali sesuai fitrah dan juga pelayanan kecanduan gadget dan game), anak-anak tidak boleh menonton dan bermain dengan electronic (hp dan televisi) lebih dari 20 menit perhari.

    Nah, kalo di saya anak-anak memang gak nonton tv di rumah, pegang hp pun dengan syarat yang ketat.
    Jadilah mereka aman
    mudah-mudahan.

    BalasHapus
  2. menurut kak sinyo, pendiri Peduli (yayasan gratisan yang menangani LGBT yang ingin kembali sesuai fitrah dan juga pelayanan kecanduan gadget dan game), anak-anak tidak boleh menonton dan bermain dengan electronic (hp dan televisi) lebih dari 20 menit perhari.

    Nah, kalo di saya anak-anak memang gak nonton tv di rumah, pegang hp pun dengan syarat yang ketat.
    Jadilah mereka aman
    mudah-mudahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah luar biasa sekali kk. Itulah penting perannya orangtua ya kak.. Madrasah pertamanya anak. Kalo orangtua aja tidak memberikan ruang anak untuk bercerita, eksplor alam. Jgn salahkan kepribadian anakny akan menyimpang.

      Hapus
  3. Aku benar benar masih berjuang untuk hal ini sih kak, untuk hp sendiri aku berusaha pegang tidak didepan nya,kalau didepan nya alamak,pasti nanges minta hpe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Jadi challange tersendiri jg untuk orangtua ya kk.. Bravoo.. 😇😇

      Hapus
  4. Kalau kami masih memberi keringanan. Anak-anak boleh menonton tapi berbatas waktu dan tidak setiap hari. mereka patuh sejauh ini. Tinggal PR emaknya, melakukan itu untuk diri sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks for sharing kk.. Intinya harus kasi limitation y kan kk

      Hapus
  5. Di rumah kami masih membolehkan paparan screen. Tapi ada aturannya dan disepakati. Nonton tv maksimal 1 jam di hari senin dan sabtu. Gadget di hari Ahad. Laptop boleh setiap hari tak lbh dr 1 jam only power poin n word untuk menulis. Aturan pun kadang nggk terlali rigid kali. Kadang ayahnya suka ngasi kelonggaran juga kalau ada sesuatu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak kaka umur berapa. Udh bisa word dan ppt? And the most important. Peran orangtua ya kan kk

      Hapus
  6. di rumahku ponakan masih sih liat HP. nonton youtube kids. tapi memang sama ortu dan keluarga besar diawasi, ga boleh lama-lama. tapi dilema juga memang. moga nanti bisa betul-betul lepas dari gadget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya step by step kk.. Asal jangan addicted saja

      Hapus
  7. sem oga bisa jadi ibu yang benar2 menjadi madrasah buat anak2nya dirumah ya kita kak. agak ketar ketir awak jadi emak2 ini dijaman now saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiiin ya Robb. Iya kk. Apalagi nanti pas zaman awak ya kk.

      Hapus
  8. di rumah kami tv juga jarang hidup. palingan pas ada world cup hidupnya.

    tapi kalo gadget, gak cuma anak aja yang lagi bermasalah, emaknya pun hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kk. Orangtua juga harus jdi contoh untuk anaknya. Semangt utk kita kk

      Hapus
  9. Anakku parah untuk tv nya, apalagi kalo udah libur. Untuk hape, selalu tarik ulur. Aku usahakan untuk nggak pegang hape di depan anak2. Maksimalkan bermain dengan mereka baik di dalam maupun di luar rumah. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi mengatur aktivitas gadget sekeluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak. Sebenarnya kemampuan perkembangannya dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi baiknya memang tanpa gadget supaya 4 perkembangan (motorik halus, motorik kasar, bahasa dan bicara maupun adaptasinya) mampu berkembang maksimal. Orangtua harus sering mengajak anak berbicara

      Hapus
  10. Untuk gadget, anak-anak dirumah sudah faham kalo mereka tidak diizinkan mengoperasikan benda ini.
    TV pun begitu. Tapi, seringkali mereka memanfaatkan rumah nenek saat berkunjung untuk nonton.
    Untuk laptop, sudah mulai digunakan anak pertama kami karena mendukung kegiatan menulisnya.

    Intinya,kalo bahasa Medan nya "pande-pande bawa badan lah" untuk urusan ini. Sesuaikan dengan visi misi rumah yang sudah difahami anggota keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah. Betol kali kakak awak ne. Mereka tetap dalam pengawasan ya kan kak. Klo gak diawasi, takut kebablasan. Semangt kak

      Hapus
  11. Gadget mampu membius anak-anak, hingga dewasa.
    Semoga kita bisa memanfaatkan gadget dengan sebaik mungkin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segala sesuatu hasilnya tergantung pada penggunanya ya kan kk

      Hapus
  12. Hasil penelitian Asosiasi Dokter Anak Se-Amerika Serikat dan Kanada, usia 0-2 tahun tidak diperkenankan memakai gadget.

    Usia 3-5 tahun, itu pun hanya boleh satu jam saja per hari. Usia 6-18 tahun, 2 jam per hari.

    Karena bahaya penggunaan gadget pada anak banyak sekali. Radiasi, adiksi/kecanduan, terganggunya pertumbuhan otak, terhambatnya pertumbuhan fisik, obesitas, penyakit mental, anak mudah tantrum, malas belajar, terlalu cepat dewasa (baligh dini), menjadi generasi instan, terpapar pornografi.

    (Copas dari blog saya "Catatan dari Seminar Parenting Kang Sob), 29 Maret 2018. Semoga bermanfaat.
    Salam kenal, Kak Ana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuls kak. Kebetulan saya lagi menangani tumbuh kembang anak. Jadi 0-2 tahun itu masa "Golden Period" untuk pertumbuhan dan perkembangan anak kak. Jadi sebisa mungkin memperhatikan visual, gerakan dan lingkungan anak ya kk

      Hapus
  13. Karena anak saya masih kecil masih bisa diatur untuk memakai gadget mudah2an sampai ia sekolah nanti gak bergantung sama gadget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin kk. Semangat kk.. Dari sekarang dibatasi kan kk. Klo gak dilarang nanti gak bisa lepas. 😇

      Hapus
  14. Betul sekali kak,, Saya sering kali melihat keluarga memanfaatkan gadget agar anaknya tidak menangis, tidak lari kesana kesini atau mungkin sibuk nonton drakor dan itu berhasil. Tetapi memang ada efek sampingnya yaitu sang anak tersebut jadi kurang bersosial dengan anak anak yang lain karena sudah kecanduan gadget.

    BalasHapus
  15. Aq masih berusaha juga dalam hal ini..memang gadget ini bener2 sudah meracuni kehidupan..ntahlah tapi ini diperlukan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup.. Semoga berhasil ya mba. Jdi flashback diri kita dulu. Bisa kok tanpa gadget. Thanks for sharing mb

      Hapus
  16. Bahkan elsa berencana gak punya tv stlh nikah apalagi punya anak. Tp kalo gadget buruk, gak selama nya juga sih buruk. Contohnya kayak aplikasi ruangguru yg dibikin sengaja buat belajar hihu iklam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa dek.. Asalkan pemanfaatannya bisa di control dan dibatasi dek. Segala sesuatu tergantung pada penggunanya kan? Thnk u for sharing

      Hapus
  17. Sebagai keluarga berbasis sekolah rumah, gadget bagi sangat bermanfaat banget, tapi itu resikonya ya bisa gadget holic. Belum lagi dampak lainnya bagi mata. Macam makan buah simalakama. Tapi ya kembali lagi, selalu ricek lagi komitmen awal tujuan pakai gadget. Saya sih setuju, anak usia dini memang seharusnya sangat² dibatasi penggunaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih untuk komentarnya mba. Betul sekali seperti buah simalakama. Daripada efek buruknya terlalu banyak, mending back to nature mba. tumbuh kembang anak tanpa gadget

      Hapus
  18. Era digital ini dilema ya kak,
    Satu sisi semua seakan mudah dalam genggaman,
    Satu sisi dampaknya buruk,
    Hufftt,
    Ponakan ku, karena sekolahnya full day, jadi malam gitu mesti minta hp emak/bapaknya buat nonton dan maen,
    Mau dilarang, udah seharian di sekolah, gak dilarang kok kayanya keterusan..
    Tapi selalu diawasi sih ,
    Mudah mudahan gak terdampak negatifnya, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus sih mba untuk refreshing sejenak. Tetapi tetap dalam pengawasan orang tua ya mba. Aaaamiin. Mantap, selalu diawasin

      Hapus
  19. Hiks. Sedih bacanya. Kayaknya bukan cuma anaknya yg kena masalah gadget. Emaknya dl ini yg kudu diperbaiki

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah betul mba. jadi tantangan ya buat kasi batasan juga untuk diri sendiri

      Hapus

Semoga bermanfaat

Artikel terpopuler